Minggu, 25 Mei 2014

BERATNYA JIHAD

               Sejak masih duduk dibangku sekolah aku telah menjadi perempuan mandiri, ulet, tabah dan suka berjuang. Ini semua adalah berkat ayahku KH Edi Suwarto yg menanamkan nilai-nilai Islami pada semua anak-anaknya sejak dini. Beliau tak pernah bosan menasehati anak-anakmnya untuk menjadi manusia seutuhnya, yang mampu mengamalkan ilmunya di masyarakat, berakhlakul karimah dan terus berjuang tanpa kenal lelah. Selalu mengambil hikmah atau sisi positif dalam setiap kejadian, tabah, rela berkorban, memperhatikan hidup banyak orang, dan menomorsatuka Islam dan Iman.
               
                Maka ketika aku lulus S1 ( 17 April 1993) aku tidak mau menjadi Pegawai Negeri Sipil ( PNS ), Padahal Kasi Urais Kemenag Cilacap sampai datang ke rumahku 3x ( 3 th) berturut2 meminta kesediaanku untuk menjadi PNS di Kemenag Cilacap, sungguh hal yang sangat istimewa, seorang remaja perempuan yang didatangi ke rumah supaya mau menjadi PNS,tetapi menolak, sementara di luar sana ribuan orang mengantri ingin menjadi PNS Kemenag. 
              Penolakanku bukan tidak beralasan, aku menolak menjadi PNS karena beberapa pertimbangan :
1. PNS digaji oleh negara dari uang yang didapat dari berbagai sumber yang tidak saya ketahui ( bisa jadi         pajak PSK,Miras dll )
2. PNS sering terjebak pada korupsi besar atau kecil karena semasa aku kanak2 sering menyaksikan PNS       yang membesarkan nominal jumlah harga barang dari aslinya, misalnya, perjalanan dinas hanya membeli         bensin 5 liter, minta ditulis 7 liter , foto kopi 100 lembar minta ditulis 150 lembar dll )
3. PNS waktu itu dimintai uang 'pancingan' supaya SK cepat keluar, padahal jumlahnya cukup fantastis bagi 
    orang berpenghasilan rendah seperti ayah saya. Bukan hanya memeberatkan yang teramat sangat tetapi         lebih ngeri lagi hal itu adalah termasuk 'rosi-murtasi'/ suap yang dilarang dalam Islam.
4. Aku ingin tetap fokus pada jihad fi sabillah, tanpa ikatan dan disetir oleh pihak2 yang bersebarangan            dengan ajaran Islam.
             Entah kenapa, baru  lulus S1 saja begitu banyak tawaran kerja datang padaku, disamping PNS, dari Instansi sebuah Asuransi juga datang 2x ke rumah meminta aku menjadi Konsultan di Instansinya. Juga Institut Agama Islam Imam Ghazali ( IAIIG ) Cilacap, Pembantu Rektor II dan Putra pertama Pengasuh Yayasanya datang ke rumah meminta aku menjadi Dosen di IAIIG. 
            Akhirnya aku memutuskan untuk menerima tawaran menjadi Dosen tersebut dengan pertimbangan;
1. Berjuang menyebagrkan Islam melalui IAIIG
2. Terus belajar, menambah wacana ilmiah dan mengamalkan ilmu dengan kegiatan ilmiah ( Dosen )
3. Menggunakan titel kesarjaan untuk ibadah/ berjuang
            Disamping itu aku dengan bantuan ayahku  juga mendirikan Taman Pendidikan al-Qur'an ( TPQ) di lingkunganku. Dari awalnya yang hanya bertempat di teras seorang penduduk, kemudian membeli tanah wakaf bersama hingga kini telah berdiri gedung yang megah untuk sebuah TPQ. 
             Tapi ternyata orang berjuang tidak mudah, bahkan teramat berat dan sulit. Ketika sudah berhasil membeli tanah wakaf seluas 27,5 ubin. Kuserahkan pada tokoh masyarakat di lingkunganku untuk mencari dana dengan dibentuk Panitia Pembangunan supaya bisa terwujud gedung pendidikan. Tapi apa yang terjadi Panitia Pembangunan tidak melakukan apa2 sehingga tanah kosong tak dibangun2. Akhirnya aku bergerak sendiri, aku meminta bantuan mahasiswa dan teman-temanku yang kaya untuk donatur. Alahamdulillah terwujud sebuah bangunan yang megah.
               Tragis ketika gedung TPQ baru selesai dibangun ketua Panitia Pembangunan ( Bp Eded Junaedi ) malah mengumumkan pada masyarakat bahwa gedung ini bisa disewa untuk berbagai acara hajatan dll. Yang lebih menyedihkan adalah sekretaris Rt 02/ XII Kelurahan Sidanegara bahkan memimpin teman2nya untuk mabok miras dan main judi di gedung ini. 
              Hatiku panas, sakit, marah  dan sedih, terpikir olehku ' kuang ajar mereka tidak membantu dana sepeserpun, saat gedung berdiri malah dijadikan lokasi judi dan mabok' apalagi setiap kali selesai mabok, botol2 tetap berserakan di sana, tanpa dibuang atau dipindahkan. Rasanya aku ingin mengamuk dan berteriak pada mereka, tetapi aku bersabar, menahan diri. Hati boleh panas tapi kepala harus tetap dingin, begitu nasehat ayah dan guru2ku.
               Beberapa hari kemudian aku bertemu dengan istri Ketua Panitia Pembangunan TPQ. Aku memuji kehebatan suaminya yang telah mewujudkan berdirinya gedung TPQ yang megah. Aku katakan ' Alhamdulillah bu, gedung TPQ kita sudah jadi, hebat deh Bapak selaku ketua Panitia Pembangunan, sudah berhasil pembangunannya' sambil tersenyum apresiatif dan mengacungkan ibu jari kearahnya. Meskipun sebenarnya suaminya tidak melakukan apa2 karena saya yang mencari dana ke sana kemari sendiri tanpa malu dan risi. Dia menjawab sambil tersenyum dan penuh bangga pada suaminya, iya,ya alhamdulillah, kita sekarang kalau mau kumpulan sudah ada tempatnya, kalau hajatan juga bisa pakai gedung ini." Rupanya pancinganku mengena dia bangga meskipun tidak menyebut sebagai tempat  ngaji di TPQ. Maka aku langsung menuju hal yang sebenarnya, untuk mencegah mabok di TPQ melalui tokoh masyarakat karena dalam pertimbanganku akan lebih mengena bila bukan aku/ bu Nyai yang bicara langsung pada mereka. 
Aku berkata ' tapi sayang,bu...." 
kemudian dia menjawab, 'sayang, kenapa ?'  
Aku jawab, 'tiap malam buat mabok dan judi.'  
Dia terperangah dan kaget dan betanya , hah, apa iya...?'
Meski aku ragu apakah memang benar2 tidak tahu atau pura2 tidak tahu, tapi aku tetap percaya dia memang tidak tahu, karena dia jarang bersosialisasi dan sibuk kerja karena PNS. 
Maka aku jawab, ya, dan tolong beritahu Bapak, supaya menegur mereka, karena ini kan gedung TPQ untuk ngaji ,masa untuk mabok apalagi botol2 nda dibuang , kan bisa berefek negatif bagi para santri."
            Beberapa hari kemudian ada arisan warga RT, Pak Eded menyampaikan kepada hadirin tentang hal tersebut dan menghimbau jangan mabok di Gedung TPQ. Sungguh mengagetkan reaksi sekretais Rt dkk, mereka ternyata makin jadi dan marah. 
            Bendahara TPQ ( Bapak Supomo ) datang mencerikanya pada saya ;
' Bu, maaf saya au cerita tapi ibu jangan marah, ya....
Aku jawab, ' ya, nda apa2 crita saja.."
'Sungguh ibu nanti tidah marah ? ini hal yang sangat berbahaya ,lho bu...jangan2 nanti ibu marah pada saya, padahal maksud saya baik , biar ibu tahu....' .begitu  katanya.
Aku jawab, ' Ya, tenang aja, silahkan bilang dngan jujur nda usah nda enak hati pada saya, saya malah seneng kalau ada apa2 saya diberitahu, jadi saya tahu kekurangan saya...'
'Begini, bu....waktu di rapat RT Pak Eded menyarankan untuk tidak mabok di TPQ, Pak Wahyu Haryadi (sekretaris RT ) dkk marah, meraka menuduh katanya pak Kyai yang nyuruh pak Eded untuk mengatakan itu, dan meraka menagncam akan mabok bareng di TPQ, mengundang pemabok sekabupaten, dan rumah ibu/ bapak  akan dilempari dan diusir dari sini  '
Bagai disambar petir disiang bolong, aku kaget luar biasa mendengarnya, karena tidak ku duga reaksinya seperti itu dan kata2 bendahara ini akan meneganbarkan hal sedahsyat itu.
Dengan marah laur biasa, mata berkaca2 aku menjawab tegas ; Oh, begitu...baik ! Saya tidak takut, seringan2nya paling2 saya remek , dan separah2nya saya mati. Kalau saya mati karena dilempari, saya ikhlas, berarti mati syahid saya masuk syurga, kalau saya mati tapi tidak ikhlas,berarti saya mati sangit, silahkan lempari saja rumah saya , saya tidak akan pergi, kapan mereka lakukan itu !"
Kemudian dia menajwab dengan penuh ketakutan, 'jangan begitu,bu...saya bilang ini karena biar ibu pindah atau pergi dari sini, mnghindari..."
Akupun menjawab; " Bener ! Saya serius, dan tolong tanya mereka, kapan akan mabok bareng di TPQ ?"
'Maksud, ibu ?' katanya
"Saya akan lapor ke Polres supaya menangkap dan memenjarakan semua yang mabok bareng, malah bagus semua pemabok se kabupaten dipenjara, katakan pada mereka, saya tidak takut, malah saya seneng ! masih dengan nada tinggi.
' Saya tidak berani tanya..." jawabnya
" Bilang saya yang menyuruh dan sampaikan semua yang saya katakan hari ini.' jawabku
Kemudian aku meredakan emosi karena melihat dia yang ketakutan dan untuk mengantisipasi kesan bahwa saya perempuan emosional, dengan mengatakan :
' Begini, pak, saya adalah Da'i/ bu Nyai sejak remaja saya punya kewajiban mengajak orang lain untuk meninggalkan larangan Alloh dan menajalnkan ajaran Islam, supaya bersama2 selamat dunia akhirat. Tetapi bila mereka tidak mau ya saya tidak memaksa, wong saya sendiri tidak tahu selamat apa tidak kelak, tapi setidaknya kan sudah berusaha. Jadi kalau mereka tidak mau dilarang, ya silahkan mau mabok sampai klenger atau mati sekalipun silahkan, tapi jangan di gedung TPQ, mereka tidak kasih dana, dan ini tempat pendidikan Islam, sana mabok di tempat lain, kalau bisa jangan di lingkungan RT sini, mereka kan pengurus RT juga, apa tidak malu pada warganya ?'
            Entah kenapa beberapa hari kemudian para pemabok datang ke rumah saya menyatakan akan tobat, dan karena merasa gengsi kalau untuk langsung ke mesjid, maka minta dimasukan menjadi  pengurus masjid supaya bisa jadi jalan tobatnya. Ayahku, suamiku dan pengurus tidak ada yang setuju, hanya aku yang percaya pada niat baik mereka dan langsung memasukan ke pengurus. Tapi benar, setelah masuk jadi pengurus, merka bukan membantu berjuang malah berniat mengusir aku secara halus. Dengan cara merenovasi pengimaman masjid dengan membongkar rumahku dan menutup rumahku dengan pengimaman. Tapi bisa ku lawan sekali lagi. Bukan karena aku ingin berkuasa, tetapi aku ingin menyelamatkan masyarakat dan masjid dari orang2 kafir dan munafik. Bahkan tanpa ku sadari aku telah mengatakan ' huh, dasar orang kafir, bukannya mbantu berjuang malah merusak, saya yakin Alloh maha kaya, pasti akan ada orang kaya yang donasi untuk merenovasi masjid ini'.
                Saat ini sedang agak tenang tidak ada perlawanan keras tetapi aku prihatin karena, jamaah majlis taklim yang tetap sedikit, menyusut, tidak bertambah. Aku ingin pindah mencari masyarakat yang lebih bersahat diajak berjuang tapi ada 2 hal yang menjadi penghalang :
1. Siapa yang akan meneruskan perjuanganku ?
2. Apakah mereka akan kuat ? Karena aku sendiri yang demikian kuat melawan juga merasa sangat berat,       bagaimana jika penggantiku lemah ? 
3. Apakah bila aku tinggal akan lebih baik atau malah mati masjid dan pendidikan Islamnya ?
4. Suamiku tidak mau pindah
              Oh, Tuhan, beratnya perjuangan ini ......
              Aku harus bagaimana ?
              Tolong, hambaMu yang lemah ini
               Robbana Atiina min la dunka rohmah wa hayyi' lana min amrinaa rosyada. Amiin


Tidak ada komentar:

Posting Komentar